Dalam sebuah ruangan 3x3 m didalam miniatur surga yang engkau buat untuk keluarga kita. Terbaring. Menatap ke langit-langit. Merasa waktu merangkak pelan, padahal ia berlari. Angin malam sepoi-sepoi menusuk tulang. Lalu lintas kendaraan terdengar sunyi senyap. Suasana yang sepi. Sayup-sayup terdengar suara cicak seakan-akan ingin menanyakan kepadaku,”Hei, kamu sedang apa?”. Ya, aku ingin bercerita tentang seseorang.
Masihkah kau ingat ketika setiap hari mengantarkanku ke sekolah menengah pertama dengan mobil merahmu. Kau sering kesal jika aku tidak segera masuk ke dalam mobilmu. Dan aku pun hanya meringis. Ataukah setelah pulang sekolah aku selalu memenuhi inbox-mu untuk memberi kabar :”Tolong dijemput sekarang juga”, lalu engkau membalasnya “Coba liat ke arah barat”. Ternyata kau sudah menunggu disana.
Ketika dulu usai senja kau selalu mengajakku jalan-jalan di kota ini menggunakan motor kesayanganmu itu sehingga kedua saudaraku selalu bertanya dengan wajah *envy*,”Kenapa selalu kau yang diajak pergi?”. Menyusuri dari satu toko ke toko yang lain. Kau sering meminta pendapatku benda apa yang belum ada di rumah, dan ketika aku menjawabnya, kau lantas membelinya.
Oh iya waktu itu kau pernah marah besar kepadaku karena aku melanggar nasihatmu. Pulang malam pukul sembilan adalah kesalahan fatal untuk anak seusiaku dulu. Aku pun cuma bisa menangis mengurung diri di kamar. Hanya wanita terbaik di rumah kita yang bisa menghiburku kala itu .Selama tidak lebih dari 3 hari aku tidak tahan mengurung diri, tidak berbicara kepadamu apalagi sekedar basa-basi menyapamu. Mungkin kau juga merasakan apa yang kurasakan. Mengajak pergi setelah senja mungkin itu caramu berdamai denganku. Itu hal yang aku suka dari kau.
Malam harinya aku dan saudaraku selalu berkumpul untuk mendengarkan cerita masa kecilmu. Cerita-cerita yang membuat kami tertawa. Kadangkala juga menceritakan pengalaman yang baru engkau dapatkan. Engkau selalu berharap anak-anakmu dapat memiliki kehidupan yang lebih baik . Dan diakhir cerita kau selalu berpesan kepadaku,”Jangan ditiru ya!”.
Tahun berganti tahun aku beranjak dewasa secara fisik. Tidak ada lagi suara klakson mobil merahmu menyuruhku masuk. Tidak ada lagi sentuhan hangat untuk mencium punggung tanganmu sesering kala itu. Tidak ada lagi beberapa kata “Tolong dijemput sekarang juga” yang memenuhi sent box ponselku dan tentunya kau tidak berada lagi di ujung barat menungguku. Katamu aku sudah dewasa, hingga kau menghadiahi sebuah motor karena kau sangat bangga aku diterima di sekolah menengah atas favorit di kota ini. Terkadang keterpaksaan membuat diri ini mandiri. Hingga akhirnya bertahun-tahun aku tidak harus menumpang di mobil merahmu lagi karena memang arah tempatku menimba ilmu dan tempat kau mencari rezeki berlawanan arah. Kau ke utara dan aku ke selatan.
Ya, memori itu melintas secepat kilat pergi dalam kehidupan kita. Kini usiamu hampir mendekati tiga kali usiaku. Kau tidak sekuat dulu bahkan kini kau mungkin sudah lupa bagaimana cara mengemudikan mobil merahmu atau bagaimana membalas pesan singkatku. Bercerita tentangmu seperti menceritakan film pahlawan yang tentunya kalau ditorehkan menjadi kata-kata tidak akan ada habisnya. Dan seseorang itu hingga detik ini masih bersamaku.
Selamat hari lahir, Bapak.
Semoga Allah selalu menyayangimu dan keluarga kita.
Semoga selalu diberi kesehatan oleh Sang Pemilik Kesehatan. Beribu terima kasih kepada Nenek yang sudah melahirkan beliau untukku di dunia ini. An innocent child on her father’s lap is the bloger x)





